Terkini Sepenggal Halo Dan Sebaris Jawaban

Ada sebuah perasaan terasing yang semakin membuncah. Menjadikan kekhawatiran timbul menggunung. Mengaburkan pandangan sampai tak ada lagi warna yang bisa ditangkap mata selain abu.

Ada sebuah kegelisahan yang semakin menggerogoti. Menjadikan keputusasaan merajalela. Mengelabui segala budi yang berbisik.

Bukan masalah ada yang salah dalam perjalanan ini. Hanya saja kesendirian adakala mengekang. Menguasai sampai tak lagi bisa menelaah dengan jernih.

Rasanya pekat yang ada mengakibatkan semua prasangka sebagai tanggapan yang absah. Atau mungkin ini hanya sentimen lelah yang juga mengikis akidah diri.

“Halooo??” sepotong bunyi yang dinanti

Di mana dulu perasaan besar kepala yang terpampang nyata. Berteriak lantang mengakibatkan sosok yang tak gentar akan kesunyian.

Mengapa sekarang rasanya titik-titik sepi semakin bising. Memekakkan gendang telinga, menciptakan hati menjadi rusuh.

Bila saja dari sekian ratus orang yang kemudian lalang dari jelas sampai pekat bersedia berhenti barang semenit. Untuk bertukar sapa atau bertukar canda. Mungkin sunyi bisa tersingkir.

Atau jalan ini bahu-membahu salah, seharusnya dulu saya berbelok, tidak membiarkan hati yang besar kepala menang. Hingga menyisakan sesal di sudut yang sekarang senyap.

Bila mana langkah membawa, biarkan kaki terus melangkah. Dalam sendiri atau bersama, dalam sunyi ataupun gegap.

Semakin dalam langkah tersuruk, semakin banyak budi yang berhamburan. Mungkin saja ada budi yang terselip, menyelamatkan raga dan jiwa yang menentukan mati suri.

“Ya… Tunggu di sana, saya sedang dalam perjalanan,” jawab ku lantang.

– NDN