Terkini Sebuah Perjalan Menjadi Penari

SELAMAT HARI TARI DUNIA, wahai para penari di seluruh pelosok bumi.

Layaknya sebuah perayaan lainnya yang pernah terlalui, saya ingin sedikit berkisah wacana keseharian saya yang kerap beririsan dengan dunia tari. 

Sejak mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak saya aktif berpartisipasi dalam aktivitas menari. Dulunya hanya iseng, sembari mengisi waktu belum dewasa saya. Jelas tarian yang dibawakan pun hanya tari-tari sederhana untuk memeriahkan panggung hiburan sekolah.
Beranjak pada masa sekolah dasar saya masih mengikuti ekstrakulikuler menari. Saya ingat persis tarian itu berjulukan Tari Piring yang dibawakan dengan piring kertas dalam balutan gerakan yang sederhana. Oh selain itu saya juga pernah membawakan Tari Lilin dan Tari Dindin Badindin. Sebagian besar masa kecil saya memang dihabiskan di Medan, Sumatera Utara jadi tidak usah heran list tarian yang mengisi hari-hari saya yaitu tarian-tarian Sumatera.

Selepas itu, saya memasuki masa di mana modern dance sedang hits. Saya pun beralih, mengikuti beberapa teman untuk mencoba-coba menciptakan gerakan dan menampilkan modern dance tersebut dalam sebuah pentas seni siswa SMP. 

Nyatanya, hati ini enggan berpihak. Ada perasaan yang hilang. Sederhananya, saya tidak merasa menjadi diri sendiri dengan menarikan gerakan modern tersebut. Musiknya yang melantun tidak menciptakan saya tergerak untuk menari.
Masuk SMA, saya aktif di ekskul tari Jawa. Selain itu kesempatan besar tiba saat saya kelas dua. Sekolah memutuskan berpartisipasi dalam program penurunan bendera Merah Putih pada Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2008 lampau. Ternyata partisipasi pada aktivitas itu membuka jalan saya untuk menari tari tradisional lagi.

Selepas dari program itu, saya diajak bergabung pada sebuah sanggar tari besutan mantan penari Swara Mahardika yang tersohor. Saya pun bergabung dengan Swara Mahardika Muda. Lewat latihan yang rutin saya berangkat mengikuti misi budaya ke Prancis dan Swiss pada 2010. 

Langkah kaki tidak berhenti di sana, tiga orang teman saya membentuk Kultura Indonesia Star Society pada 2012. Saya pun memutuskan untuk bergabung. Hasilnya latihan rutin membuahkan kesempatan misi budaya ke Turki pada tahun 2013.

Hingga beberapa bulan yang kemudian saya masih aktif menari. Tentunya tari tradisional Indonesia. Belasan tarian pernah saya tarikan, mulai dari Sumatera hingga Papua. Perasaan cinta itu semakin besar, kebanggan itu masih menggunung.

Tidak ada alasan untuk berhenti sebenarnya, hanya saja waktu masih menentukan untuk menenggelamkan saya dengan aktivitas lain. Bukan suatu halangan, dalam perjalanannya saya sudah melalui perjalanan timbul karam ini sebelumnya.
Sebut saja itu proses. Bagian menjadi seorang penari yang punya kewajiban. Saya masih dan akan dengan gembira menyebut diri saya penari. Entah sekarang atau nanti. Tidak ada yang berubah. Semangat dan kecintaan itu masih mengalir sama derasnya. 
Salah satu pelajaran yang paling besar lengan berkuasa melekat dalam ingatan saya yaitu “Seorang penari tahu betul akan keselarasan. Dia berguru beradaptasi dengan musik dan sekitarnya. Menjadi seorang penari selalu bisa menanggalkan keegoisannya. Karena ia harus selalu selaras dalam Wiraga, Wirasa dan Wirama,” 

Pelajaran itu melekat kuat. Membuat saya enggan dibenam waktu. Meski sedang pasif menari, saya aktif menulis wacana tarian dan aktivitas tari yang dilaksanakan oleh sanggar – sanggar tari di sekitar Jakarta.

Saya menggagas berdirinya Ketik Tari. Dalam perjalanannya saya mengajak serta empat orang terpercaya (Emir, Erika, Ninda dan Caya) untuk membuatkan Ketik Tari hingga hingga di titik ini. Harapannya, Ketik Tari bisa menjadi medium bagi sanggar-sanggar tari dan tari tradisional untuk mendapat kawasan di masyarakat. Tentunya ini sebagai bentuk apresiasi kami terhadap seni tari tradisional Indonesia.
Oh, tidak lupa, sebelum memutuskan mendirikan Ketik Tari, saya pernah menulis novel wacana tari. Novel fiksi ini menyelipkan filosofi-filosofi tarian tradisional Indonesia dalam ceritanya. Dengan judul “Dalam Liku RASA Ku Temukan Gerak Indah Kehidupan”, novel ini diterbitkan oleh PT Gramedia Widiasarana Indonesia (GRASINDO) pada 20 Oktober 2013 silam.

Perjalanan saya masih panjang, lenggang ini masih akan terus mengayuh. Melempar selendang sebagai jala pada setiap peluang yang terlalui. Masih banyak ilmu tari yang akan saya gapai. Ragam cara bisa dilakukan untuk mengapresiasi budaya tradisional Indonesia khusunya tarian. Maka saya masih jauh dari kata berhenti.

Teruntuk Penari-Penari di luar sana,

Berbanggalah atas kesempatan menjadi seorang penari. Kesempatan itu tidak tiba dengan mudah, tapi lewat peluh yang menetes dan semangat yang membara. Terus lah menyebar cinta lewat tarian. Dalam lenggang gerak dan alunan musik yang mengalun itulah sebuah budaya tersebar dari generasi ke generasi. Lewat semangat dan tekad kita lah, sebuah budaya mendapat ruangnya di masyarakat. 
Sekali lagi, Selamat Hari Tari Dunia. Happy World Dance Day, Dancers!! 🙂