Terkini Sebelum Tewas, Saksi Kunci E-Ktp Johannes Minta Ini Ke Lpsk

Johannes Marliem tidak sempat meminta dukungan ke LPSK

Johannes Marliem tidak sempat meminta dukungan ke LPSK Terkini Sebelum Tewas, Saksi Kunci E-KTP Johannes Minta Ini ke LPSK
Johannes Marliem tidak sempat meminta dukungan ke LPSK Terkini Sebelum Tewas, Saksi Kunci E-KTP Johannes Minta Ini ke LPSK

Majalah SBOBET Beberapa pekan sebelum ditemukan tewas di kediamannya, Los Angeles, Amerika Serikat, saksi kunci kasus korupsi E-KTP Johannes Marliem tengah mempertimbangkan untuk memohon dukungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Hal ini terungkap ketika MajalahMandiri.com menghubungi Ketua LPSK Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai, Selasa (15/8/2017).

Semendawai mengungkapkan, selang satu atau dua hari sesudah satu media di Indonesia memberitakan ihwal Johannes, yang mempunyai sejumlah data ihwal orang-orang yang terlibat dalam mega skandal korupsi E-KTP, pada selesai Juli 2017, pihaknya menghubungi Johannes.

Melalui internet, LPSK menghubungi laki-laki yang tinggal di Los Angeles itu dan memperlihatkan apakah ia membutuhkan dukungan atau tidak terkait kasus yang menimpanya.

“Salah satu pimpinan LPSK mengontak ia untuk memperlihatkan perlindungan. Dia jawab mau memahami dulu dan minta waktu untuk menjawab anjuran itu,” ujar Haris.

Saat itu, lanjut Haris, pihaknya sudah menyiapkan formulir untuk Johannes Marliem.

“Di ketika kita menunggu (jawaban Johannes) itulah insiden itu terjadi (Johannes diberitakan tewas bunuh diri),” papar Haris.

Johannes Marliem tidak sempat meminta dukungan ke LPSK Terkini Sebelum Tewas, Saksi Kunci E-KTP Johannes Minta Ini ke LPSK

Saat dihubungi LPSK, kata Haris, Johannes belum mengungkapkan banyak hal. Kendati demikian, LPSK masih menunggu pihak-pihak yang meminta dukungan terkait kasus korupsi e-KTP.

Nama Johannes Marliem tertulis dalam surat dakwaan milik terdakwa korupsi e-KTP Irman dan Sugiharto.

Johannes Marliem, selaku provider produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1, yang akan dipergunakan dalam proyek penerapan KTP berbasis NIK secara nasional (KTP elektronik atau e-KTP), disebut pernah bertemu Diah Anggraini, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Husni Fahmi,dan Chaeruman Harahap. Pertemuan itu terjadi pada Oktober 2010 di Hotel Sultan Jakarta.

Dalam surat dakwaan, Johannes Marliem disebut menyampaikan uang US$ 200 ribu (Rp 2,6 miliar) kepada terdakwa Sugiharto di Mall Grand Indonesia Jakarta. Oleh Sugiharto, uang tersebut kemudian digunakan untuk membeli kendaraan beroda empat Honda Jazz.

Jaksa penuntut umum (JPU) KPK mengatakan, uang yang diberikan oleh Johannes ialah bab dari laba yang didapat dari proyek e-KTP senilai US$ 16.431.400 atau sekitar Rp 219 miliar dan Rp 32,9 miliar.

Saat kasus korupsi e-KTP bergulir, Johannes Marliem sudah berada di Amerika Serikat. Dia ditemukan tewas di kediamannya pada Kamis 10 Agustus 2017, pukul 14.00 waktu setempat, sesudah dikepung lebih dari 9 jam oleh petugas SWAT Los Angeles. Dia diduga bunuh diri.

Johannes Marliem tidak sempat meminta dukungan ke LPSK Terkini Sebelum Tewas, Saksi Kunci E-KTP Johannes Minta Ini ke LPSK