Terkini Return From Nowhere

Menulis lagi sesudah dua bulan. Cukup lama, malah sangat lama. Gue bukan berhenti mengerjakan acara pemberi semangat ini. Hanya saja, seolah kemampuan ini diremuk redam oleh kesantaian yang melewati batas. Berkali-kali gue berhadapan dengan laptop dan kertas, berkali-kali juga gue menemukan kebuntuan, tanpa jangan kan sebaris kalimat, sepenggal kata pun gagal hadir.
Beberapa hal menciptakan gue mewaspadai kemampuan gue menulis. Kebimbangan itu terus hidup dan perlahan semakin menjalar, mengakar kuat, menyebabkan gue tertutupi oleh logika yang membusuk. Hal-hal remeh menyerupai pertanyaan ketika wawancara kerja “kamu lebih suka menulis di bidang apa?” ternyata tidak seremeh itu, gue terpaku, alasannya sejujurnya hingga kini gue belum tau goresan pena menyerupai apa yang gue banget, yang bisa menciptakan gue merasa lebih dan memang mumpuni di bidang itu. Entah teman-teman yang lain mencicipi atau tidak, tapi yang terang pertanyaan itu sempat mengusik. Dan setiap pertanyaan itu muncul gue hanya bisa menjawab “Apa aja mba/mas, belum ketemu yang pas banget,” What a shame!
Belum lagi beberapa lomba menulis yang gue ikuti tidak menghasilkan apa-apa. Perasaan tidak bisa bahkan menulis di bidang fiksi yang gue rasa kelebihan, pun memuncak. Padahal ya namanya perlombaan tidak semua bisa jadi pemenang kan. Tapi mungkin alasannya didorong minimnya acara (saat itu menunggu wisuda, sudah selesai magang dan skripsi serta belum menerima pekerjaan) maka pikiran negatif dengan mudahnya menyusup.
Hingga berujung pada minimnya perjuangan dan niat untuk menulis (bayangkan, semenjak kapan menulis membutuhkan niat dan perjuangan sebesar itu, jikalau selama ini acara itu selalu menyenangkan). Sampai akibatnya malam ini, gue buka lagi blog ini, dan gue sadari 2 bulan bukan waktu yang sebentar untuk lari yang sayangnya tidak membawa gue kemana-mana selain perasaan tidak menentu.
Tapi malam ini entah siapa yang menggerakkan, gue log in blog lagi, gue baca-baca postingan lain di home dan gue menemukan satu komen tertinggal di post cerpen gue terakhir. Erika, muncul lagi (she’s just too supportive for me, because she left some comments on my mostly post) sesudah sekian usang postingan gue sepi pendapat Erika, mendadak beliau muncul lagi. 
Kalau saja kadang perasaan tidak melampaui besarnya daya intrepretatif kata-kata gue mungkin udah menuliskan sepanjang mungkin perasaan meledak ini. Erika menulis komen yang simple, tapi beliau menciptakan gue tau, bahwa goresan pena itu tidak butuh pembenaran untuk berada di sana. Tidak butuh niat menggebu dan impian unggul dari yang lain. Dia hadir alasannya memang beliau tersusun rapi dari apa yang seharusnya disampaikan. 
Perasaan ketidakmampuan menulis cantik yakni perasaan yang jelek jikalau kalian menyerupai gue, yang besar hati menulis. Komen Erika yang bilang “Nami banget” seolah menyadarkan gue, bahwa gue tidak harus memenangkan setiap lomba untuk bisa menulis, tidak harus bisa menjawab apa bidang yang paling pas untuk gue tulis, tidak perlu membiarkan kejemuan mengahalangi setiap asa untuk menulis yang menggebu.
Karena mungkin gue tidak bisa memberikan sulitnya perasaan tidak menulis ini pada siapapun tapi Erika secara tidak eksklusif seolah mengerti dan menyentuh titik yang benar :’)
PS : I don’t know what Erika has do lately, but if it’s about take her to London and make her big dreams come true, I wish she got the prize and do “our-different-place” dream soon because she deserve every piece of it!!! And thanks for always remember how we have same dream in different place, Er! 🙂