Terkini Jakarta Itu Keras, Apalagi Krl-Nya

Cerita ini muncul kala saya sedang dalam sebuah perjalanan menuju kantor. Tentunya dongeng ini muncul di KRL, moda transportasi utama untuk mencapai kantor sehari-harinya. Siapa pun, mungkin bukan hanya saya, pengguna KRL lainnya paham benar akan banyaknya kisah yang terlihat konkret dalam perjalanan singkat itu.
Kali ini suatu kesadaran untuk tidak bersikap serakah mengetuk pemandangan mata saya, siang itu.
KRL sedang berhenti di stasiun Sudimara, bagi kalian yang menumpang KRL jurusan Maja-Tn Abang niscaya paham benar, Sudimara merupakan sentra keramaian. Penumpang menumpuk di sana, maka tidak ayal, gerbong perempuan yang kosong mendadak sempit jikalau Sudimara menjadi perhentian.
Berbondong-bondong perempuan “super” masuk ke gerbong. Saya menyebutnya super alasannya rasanya sulit menemukan kata ganti untuk menggambarkan keteguhan dan ketangguhan perempuan di gerbong khusus perempuan KRL. Cobalah sendiri dan rasakan!
Kembali ke cerita, daerah duduk barisan saya sudah diisi oleh 6 perempuan. Artinya, secara kemanusiaan, hanya tersisa satu daerah untuk satu perempuan lagi. Tapi nyatanya, perempuan “super” tidak pernah berhenti berjuang.
Maka, seorang perempuan mendesak masuk di celah sempit di bangku yang sekarang sudah diduduki oleh 7 orang perempuan. Iya, beliau menentukan merengsek masuk di antara saya dan seorang ibu. Saya dan ibu itu pun memisah, memberi ruang seadanya. Seperti yang dapat kalian bayangkan, beliau hanya punya ruang kecil untuk sekadar duduk kecil dengan daya tumpu yang niscaya besar di kaki. Percayalah, duduk menyerupai itu hanya akan menciptakan lelah daripada nikmat.
Tidak lama, KRL melanjutkan perjalanan. Berselang waktu, si mbak mulai kewalahan menahan beban tubuhnya (mungkin kakinya pegal) tapi saya enggan peduli. Itu risiko dari pilihannya. Ia terus bergerak merengsek masuk, mungkin berharap celah yang ironisnya tidak ada.
Nyatanya, tindakan itu tidak hanya meresahkan saya, tapi juga si ibu di sebelah saya tadi. Hingga karenanya si ibu menentukan untuk meninggalkan kursinya dan bangkit di sisi pintu. Itu menyebalkan, saya bukan pembela kebenaran, tapi etikanya si mbak lah yang harus sadar diri.
Belum berhenti di sana, si mbak pun mengeluarkan bunyi “nah gitu dong”. Seketika saya menoleh, tentunya bukan saya yang melemparkan pandangan tidak suka, tapi juga beberapa orang di hadapan dan di sekitar si mbak.
Tidak kah kita sebagai insan dititipkan hati nurani dan nalar pikiran untuk mendulang segala tindakan yang kita lakukan? Bagi saya, bukan si ibu yang harus beringsut tapi si mbak. 
Sayangnya, perempuan-perempuan KRL cenderung buta pikiran dan hati. Hal yang saya takutkan melingkupi saya suatu hari nanti (semoga tidak). Saya paham akan upaya diri untuk mendapat yang terbaik, tapi bukan berarti menyikut orang lain untuk itu ialah hal yang sah.
Jika, untuk hal sekecil itu pun kita sudah buta, kemudian bagaimana dengan hal lainnya di dunia ini? Nurani kita semakin terkikis, kesadaran hidup bermasyarakat semakin tergerus. Hanya satu cara untuk menjadi normal, berkaca dan terus berkaca. 
Saya setiap harinya berusaha untuk terus berkaca kepada mereka yang egois. Menjadikan kesalahan tersebut untuk tidak melaksanakan hal yang sama. Jika kita berharap yang terbaik bagi kita, begitu pun orang lain. Jika daerah itu sudah menjadi rezeki kita, beliau tidak akan pernah berlari. 

Jakarta itu keras, apalagi KRL-nya.