Terkini Hujan Di Rossi Musik

Sore itu mendung menggelayut, tapi tidak lantas menyurutkan langkah gue untuk menyambangi pentas #KitaSamaSamaSuka Hujan. Sederhana, alasannya sebagai penikmat hujan, kadang sore mendung lebih indah. Debu jalanan yang menampar pun seolah lenyap terganti semilir angin.

Selain alasannya memang termasuk orang yang menikmati hujan dan tidak gampang mengalah pada payung, gue memang mengidolakan Banda Neira. Kalau saja kalian ingin tau kenapa gue menentukan menerjang Jakarta di hari Rabu yang sarat kemacetan dan bersiap diguyur hujan.
Setelah bertarung melawan macet Blok M – Fatmawati selama satu jam lebih, kesudahannya gue hingga di Rossi Musik. Tiket pun sudah digenggaman, buku program lantas menjadi daya tarik tersendiri. 
Jujur, sebagai penikmat Banda Neira, gue pun bermodal hafal lagu-lagu mereka saja. Sementara pengisi program lainnya menyerupai Gardika Gigih dan Layur beberapa kali namanya mampir ke telinga, sedangkan Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe benar-benar sangat asing.
Mungkin layaknya penggemar Banda Neira lainnya, ketika menatap Set List gue pun hanya mengenali dua lagu. Jelas, itu lagu Banda Neira yakni Hujan di Mimpi serta Langit dan Laut. Ketiga belas list lagu lainnya benar-benar asing.
Panggung yang tematik dengan gantungan-gantungan awan kapas bertirai hujan buatan membawa semangat akan hujan bersahabat rasanya menyelimuti kami, penonton. Pada tiga lagu awal, semangat itu masih menggebu. Hujan di Mimpi sebagai lagu ketiga yang dibawakan menciptakan gue melepaskan dahaga untuk bernyanyi bersama puluhan orang lainnya. 
Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan Rabu (15/4) Rossi Musik

Sayangnya, sehabis itu, selama hampir sejam kemudian, gue hanya sanggup hanyut dalam sepi dan sendu. Cengkraman sepi dan sendu rasanya terlalu menghimpit ruangan. Kegelisahan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh gue dan teman-teman, tapi juga Rara Sekar yang disampaikannya secara gamblang dari atas panggung.
Pemikiran sederhana gue, lagu-lagu yang sangat gila dan pembawaan lagu yang memang sangat lambat menciptakan suasana itu lahir tanpa sanggup ditolak. Bukan alasannya kami penonton lelah atau tidak tertarik, hanya saja rasanya ada tembok pemisah antara kami, penonton yang duduk di bawah dan mereka, penampil yang berdiri di atas panggung sana.
Gue langsung berusaha mengenyahkan perasaan itu. Mencoba menikmati. Karena sesungguhnya lagu-lagu gila yang mereka bawakan terdengar syahdu hanya saja masih terlampau jauh untuk direngkuh.
Tidak berhenti di sana, perjuangan Rara Sekar untuk membangun obrolan menyerupai dimentahkan oleh penampil lainnya. Mereka kesulitan untuk membuatkan kata dan cerita. Rara pun menyerupai terlempar ke kanan dan kiri panggung hanya untuk berdiri di tengah dan menjadi penyeimbang.
Kembali ke tujuan awal, untuk menikmati keriaan yang diciptakan atas dasar ketertarikan yang sama terhadap Hujan. Gue pun masih puas.
Saat membawakan lagu Langit dan Laut, Banda Neira
Rasa puas ini ironisnya tiba terlalu terlambat. Semangat yang tadinya ada dalam tiga lagu pembuka gres terasa hadir kembali di lagu penutup. Lagu dengan judul Suara Awan itu membawa gue terhanyut dalam musik dan liriknya. Seperti keinginan pada ketika melangkah masuk ke gedung Rossi Musik diiringi rintik hujan yang mulai menetes di sudut Jakarta Selatan.
Mengherankan memang, Suara Awan sendiri gotong royong lagu yang termasuk kategori asing. Namun tampaknya para penampil memasukkan seluruh jiwanya ke dalam penampilan mereka ketika membawakan lagu ini.
Semangat itu menjalar hingga ke setiap sudut gelap gedung di Jalan Fatmawati itu. Saya menikmatinya hingga nada terakhir. Mengembalikan aku pada ketika pertama kali mendengarkan Di Atas Kapal Kertas tahun 2013 silam. Jatuh cinta yang sama, perasaan yang aku harapkan selalu hadir ketika menonton pertunjukan musik Banda Neira.
Malam itu, tampaknya Tuhan mendengar pinta dan mewujudkan keinginan itu. Keenam penampil menunjukkan encore yang meledakkan perasaan gue, membayar setiap kesenduan sejam terakhir dengan DI ATAS KAPAL KERTAS.
Lagu itu, cinta pertama itu, dibawakan dengan begitu indah. Kenapa? Karena kali ini tidak hanya Rara Sekar dan Ananda Badudu yang meluluhkan hati aku tapi juga Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 
Kesempatan yang Rara berikan pada setiap penampil untuk unjuk gigi ialah momen yang luar biasa. Orang-orang yang tadinya tidak menerima spotlight selama program yang kepalang sendu, justru menutup malam dengan indahnya. 
Penampilan itu berlalu cepat, menyerupai bintang jatuh yang hanya mengizinkan mata mengintip pandang sekali. Tapi jangan tanya kesan yang tertinggal. Sampai sekarang, perpaduan musik itu masih melayang mesra di dalam relung otak gue. Membuat jatuh cinta ini semakin dalam kepada Banda Neira dan tentunya temuan cinta yang gres teruntuk Gardika Gigih, Layur, Suta Suma Pangekshi dan Jeremia Kimoshabe. 
Mungkin menyerupai Hujan yang tiba mencipta sendu dan kegelisahan akan perjalanan kegiatan hari itu namun berujung suka cita akan sejuk dan mendung yang menenangkan.  Pentas #KitaSamaSamaSukaHujan pun melaksanakan hal yang sama. Penonton dibalut sendu dan pertanyaan sebelum kesudahannya dititipkan kenangan manis berselimut suka yang pantas dikenang.

PS : Bagi yang ingin tau sama set listnya ini gue sertakan..

1. Hujan dan Pertemuan
2. Prelude
3. Hujan di Mimpi
4. Tenggelam
5. Suara Awan (Cari, dan coba dengarkan. Ini Indah)
6. Langit dan Laut
7. Dawn
8. Kereta Senja
9. Ocean Whisper
10. Derai-Derai Cemara (Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)
11. I’ll Take You Home
12. Labuh
13. Beranda
14. Dan Hujan
15. Are You Awake
Encore : Di Atas Kapal Kertas