Terkini Begini Isi Ramalan Alexander Graham Bell Yang Terbukti Pada 2017

DALAM BENAK SANG PENEMU. Sambil tetap bekerja di telepon, Bell mulai tertarik untuk merancang mesin terbang. Selama tiga dekade ia bereksperimen dengan aeronautika, termasuk desain (di atas) untuk membangun layang tetrahedral, yang memakai sel segitiga untuk stabilitas. Pada bulan Desember 1907—setahun sehabis Wright bersaudara mematenkan pesawat mereka—salah satu layang-layang Bell terbang dengan insan di dalamnya untuk pertama kalinya. Penumpangnya, Letnan Thomas Selfridge, menjadi orang pertama yang tewas dalam kecelakaan pesawat ketika ia menguji Wright Military Flyer 1908 pada tahun berikutnya.

Sains Fenomena  Ada beberapa hal yang lebih dibenci Alexander Graham Bell daripada demam isu panas di Washington, D.C. Dia biasanya melarikan diri ke perkebunannya di Nova Scotia. Namun, sebuah kewajiban yang berlangsung selama setahun memaksanya tinggal di ibukota yang lembab.

Dengan suhu 37 derajat celcius yang menyengat kulit, ia heran, mengapa insan sanggup memikirkan cara menghangatkan rumah, tetapi tidak dengan cara mendinginkannya.

Di dekatnya, Presiden Woodrow Wilson telah memasang pabrik es yang menurunkan suhu di Gedung Putih hingga 26 derajat. Saat Bell membacanya di koran, beliau telah mengalahkan sang presiden. Pemompa udara dingin—alat aneh yang dirancangnya—telah menurunkan suhu di kamarnya hari itu hingga ke suhu 18 derajat.

Ketika Bell berusia 69 tahun, ia menceritakan kisah ini dalam sebuah pidato kelulusan di McKinley Manual Training School tahun 1917. Para siswa menjadi liar dan menjadi-jadi dengan tepuk tangan mereka. Sebuah surat kabar lokal melaporkan, ia dipaksa berdiri dari daerah duduknya untuk memberikan ulang pidato tersebut.

“Bisakah perangko dipakai pada transportasi manusia?,” tanya Bell. Dia pernah berpikir untuk mengenakan tarif rata-rata pada transportasi umum, tetapi biaya untuk membangun jalan suplemen terlalu tinggi. “Mungkin, ungkapnya mengambil risiko, mesin terbang akan menjadi solusinya,” tulis surat kabar yang mengulasnya.

Pidato Bell—yang disebut sebagai “Prizes for the Inventor: Some of the Problems Awaiting Solution”—merefleksikan adanya sebuah kemajuan masa dan visioneritas dengan pandangan ke masa depan yang luar biasa.

Di dalamnya, ia mengagumi kemajuan yang dibentuk pada masa lalu: penerangan dari gas yang telah bermetamorfosis bola lampu listrik, insan bisa “melihat detak jantungnya sendiri”, dan kendaraan beroda empat menjadi kendaraan pengganti delman. Prediksinya pun berlanjut pada pesawat komersial, panel surya, dan kebutuhan akan sumber daya yang berkelanjutan.

Gilbert Grosvenor, menantu Bell dan editor majalah National Geographic, belakangan meminta teks tersebut dan menerbitkan versi revisinya dalam edisi Februari. Kini, seratus tahun kemudian, ramalan dan peringatan Bell terus berlanjut.

Bell dibesarkan di era ketika sekolah “melahirkan sarjana ketimbang ilmuwan”, katanya kepada siswa di McKinley ketika di panggung. Namun, masa yang kemudian telah melahirkan sebuah inovasi luar biasa, yakni dari telegraf ke foto.

“Saya sendiri belum cukup tua, tetapi aku sanggup mengingat hari-hari ketika belum ada telepon,” ujar orang pertama yang mematenkan telepon itu yang disambut dengan gemuruh tepuk tangan. Seiring masuknya Amerika ke dalam Perang Dunia I, ia berjanji bahwa “orang sains akan dihargai di masa depan, tidak mirip yang pernah beliau alami sebelumnya”.

Alexander Graham bell 

Menurut anggapannya sendiri, Bell pada ketika itu sedang berada di puncak intelektualnya. Pada dekade sebelumnya, beliau bekerja untuk membangun kapal tercepat di dunia (yang membuat pada tahun 1919), mengusulkan sumber energi terbaru berkelanjutan, dan terus-terusan membuat skema mesin terbang (alat yang beliau gambarkan dalam artikel tahun 1892 ibarat helikopter yang ditemukan 40 tahun kemudian). Setahun sehabis Wright bersaudara mendapatkan hak paten mereka, layang-layang Bell bisa menerbangkan temannya hingga 160 kaki.

Pada tahun 1915, beliau melaksanakan panggilan telepon pertama dari pantai ke pantai dan segera sehabis itu, seorang laki-laki di Virginia berkomunikasi dengan laki-laki di Menara Eiffel dalam transmisi transatlantik pertama.

Bell meramalkan hari ketika panggilan—dan “operasi mekanis”—bisa dibentuk tanpa kabel. Dia juga meramalkan bahwa suatu ketika nanti, alat tersebut akan “menggusur” pembuatnya: “Di setiap tangan, kita melihat bagaimana mesin dan kekuatan motif buatan menggantikan binatang dan tenaga manusia.”

Murid-murid McKinley pun terpesona. “Dia membawa penonton ke dalam kepercayaan dirinya dan membuat mereka merasa bahwa beliau sedang mengungkapkan belakang layar dari buku catatan ilmiahnya,” sebuah surat kabar melaporkan.

Bell kemudian membuat suplemen harian ke dalam buku catatannya yang legendaris: skema temuan, renungan, dan kliping pers. Di rumahnya di Nova Scotia, lebih dari 30 laki-laki bekerja untuk mewujudkan gagasan Bell.

Beberapa di antaranya cukup sederhana mirip sebuah sistem tali untuk membuka dan menutup jendela sehingga ia tidak perlu bangkit dari daerah tidur ketika membaca. Sementara itu, sisanya merupakan perjuangan besar: Bell menghabiskan beberapa dekade untuk mencoba membiakkan domba dengan lebih dari dua puting susu.

Pada tahun 1912, Bell menulis di buku catatan: “Kamu bisa menyampaikan bahwa insan telah menaklukkan misteri alam.”

Namun, lima tahun kemudian di McKinley, beliau menyuarakan keprihatinan perihal penyalahgunaan alam. “Kita bisa mengambil watu bara dari tambang, tapi kita tidak bisa mengembalikannya. Kita bisa mendapatkan minyak dari waduk bawah tanah, tapi kita tidak pernah bisa mengisi ulang mereka lagi,” katanya kepada para siswa. Dengan konsumsi yang besar di dunia, beliau meramalkan akan tiba harinya ketika persediaan mengering.

Sementara ilmuwan lain percaya bahwa udara kotor akan menghalangi sinar matahari dan mendinginkan planet ini, Bell telah memikirkan adanya fenomena semacam efek rumah kaca.

Sebagai solusinya, beliau mengusulkan alkohol sebagai materi bakar alternatif dan skema alat atap rumah untuk mengumpulkan tenaga surya dari sinar matahari.

“Hal yang paling luar biasa mengenai Doktor Bell yakni bahwa beliau lebih muda dalam pikirannya, daripada kebanyakan laki-laki setengah usianya,” ujar temannya pada 1921.

Tahun berikutnya, dan beberapa bulan sehabis mendapatkan paten terakhirnya, Bell meninggal pada usia 75 tahun. Selama pemakamannya, 14.346.701 telepon di Amerika termenung selama satu menit sebagai penghargaan terhadap penemunya.

 Bell mulai tertarik untuk merancang mesin terbang Terkini Begini Isi Ramalan Alexander Graham Bell yang Terbukti pada 2017