Berita Terhangat Sanggup Peringatan Dari Mui Pusat, Mui Sumbar Tetap Kukuh Tolak Islam Nusantara

Jiromedia.com Keputusan MUI Sumbar menolak konsep Islam Nusantara menerima peringatan dari MUI Pusat. Wakil Ketua Umum MUI Pusat, Zainut Tauhid dalam pernyataannya menyampaikan bahwa penolakan konsep ‘Islam Nusantara’ oleh MUI Sumbar menyalahi khittah dan jati diri MUI.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Pusat KH Ma’ruf Amin menyampaikan akan menegur pihak MUI Sumbar yang menolak konsep Islam Nusantara. Ma’ruf menambahkan bahwa MUI provinsi wajib mematuhi aturan MUI pusat.
“Iya harus (ikut aturan), harus. Kalau ada MUI yang menghantam salah satu pihak, dihentikan sebab kita wadah semua. Wadah kok hantam sana-sini, MUI gaduh, dong. Tugasnya menyatukan umat malah MUI jadi sumber,” ujar KH Ma’ruf Amin, menyerupai dikutip dari Detikcom.
Menanggapi peringatan tersebut, MUI Sumbar tidak goyah dengan keputusannya. Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar menyampaikan keputusan sudah tanggapan dan untuk ruang lingkup Ranah Minang (Sumbar). “Kami tegak menjaga Ranah Minang daerah kami menghirup udaranya, meneguk airnya sehingga kami mencicipi detak nadi kehidupannya. Karena kami yang hidup di tengah masyarakatnya maka kami bertanggungjawab menyampaikan bahwa negeri kami tidak membutuhkan istilah “Islam Nusantara,” ungkap Buya Gusrizal.
Baca selengkapnya jawaban Ketua MUI Sumbar dalam artikel yang diterbitkan eksklusif di akun resmi Buya Gusrizal Gazahar, Kamis, (26/8/2018) berikut ini :
“Amanah Kami Tunaikan”
Membiarkan umat gundah dengan pernyataan orang-orang yang mengusung “Islam Nusantara” sesuai seleranya menyerupai menuding Islam Arab sebagai Islam Radikal, Islam penjajah dan lainnya, berarti mengabaikan kiprah keulamaan dalam menjaga kesatuan umat.
Suatu istilah yang dilahirkan oleh sebagian umat lalu disebarkan dengan kekuasaan dari meletakkan tugu hingga mengarahkan banyak sekali institusi, itu jauh sekali dari “taswiyyatul manhaj” bahkan mengabaikan belahan umat Islam lain yang belum tentu bisa mendapatkan konsep yang diusung tsb.
Ketika kaum sekuler, liberal dan pluralis mengakibatkan Islam Nusantara sebagai payung tumpangan mereka, itu bukan lagi kasus furu’ yang bisa didiamkan begitu saja.
Ketika perilaku diambil oleh ulama Sumbar, kami bukan hanya membaca dan mendengar paparan konsep sehingga dengan enteng dikatakan “salah persepsi”.
Kami melihat perkataan, perbuatan dan perilaku yang dilakukan di bawah konsep itu jauh melenceng maka kami memadukan antara pemahaman konsep dengan aplikasi di lapangan, itu lah langkah beropini dalam masalah aktual. Kalau tidak demikian, berarti kita membohongi diri sendiri.
Sikap sudah kami lahirkan.
Kami mengajak semua kembali kepada nama agama yang diberikan oleh Zat Yang Maha Menurunkan Syari’at Agama ini yaitu “Islam” (QS. Ali ‘Imran 19, 85, al-Maidah 3 dan al-Shaff 7) tanpa ada pemanis apapun.
Mudah-mudahan tidak dilupakan bahwa telah dua kali saya juga mengkritik istilah “Islam Wasathiy” di hadapan pengurus lembagai keulamaan ini yaitu di Lombok dan di Bogor”.
Satu mumayyizat (keistimewaan) tidak bisa dilabelkan kepada Islam sebab akan memunculkan pemahaman yang rancu di tengah umat.
Seluruh mumayyizaat harus difahami secara utuh dan tidak bisa bangun sendiri.
Kalau hanya kekhususan budaya dan tradisi yang menjadi alasan menambah Islam dengan wilayah dan sifat lainnya, bagi kami itu bukanlah dalil sebab semua tradisi dan budaya, tetap kita saring dengan konsep ‘uruf dalam dalil hukum.
Kami tegak menjaga Ranah Minang daerah kami menghirup udaranya, meneguk airnya sehingga kami mencicipi detak nadi kehidupannya.
Karena kami yang hidup di tengah masyarakatnya maka kami bertanggungjawab menyampaikan bahwa negeri kami tidak membutuhkan istilah “Islam Nusantara” itu dan juga tambahan apapun di belakang nama “Islam” sebab kata itu sangat tepat dalam pandangan kami.
Perlu diketahui bahwa dalam menjalankan dakwah dan mengamalkan tradisi kami,
kami sudah mempunyai konsep yang menyatukan ormas Islam apapun di Ranah Minang selama ini, yaitu:
“Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, Syara’ Mangato Adat Mamakai”
Kami tempatkan falsafah kehidupan itu dalam pengamalan agama kami yang sejak ulama-ulama bau tanah kami, namanya ialah “Islam” tanpa ada tambahan apapun sebab kami tidak bisa menggandengkan apapun dengan nama yang tepat itu.
“Sekali kata dikatakan, seribu fikiran menjadi timbangan, pantang bertarik surut ke belakang, kecuali Al-Qur’an dan Sunnah yang menentang”
Ingatlah:
أهل البلد أدرى بشعابها
“Penduduk suatu negeri lebih tahu dengan celah-celah kampungya”.