Berita Terhangat Presiden Xi Jinping Dinobatkan Menjadi Laki-Laki Terkuat Di Dunia

Rizal Mallarangeng : Presiden Xi Jinping, Manusia Setengah Dewa

 Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia Berita Terhangat Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia
 Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia Berita Terhangat Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia

Berita Hari Ini The world’s most powerful man. Itulah laporan utama majalah terkemuka The Economist dua ahad kemudian yang mengulas China dan pemimpinnya, Xi Jinping.

Bukan Donald Trump, bukan pula Vladimir Putin. Manusia terkuat, paling berkuasa, dan paling memilih arah perjalanan sejarah dunia ke depan yakni Xi Jinping, tokoh kelahiran Beijing yang dalam lima tahun terakhir ini memegang tiga jabatan penting sekaligus, yaitu Presiden Republik Rakyat China, Ketua Komite Sentral Militer, dan Sekjen PKC (Partai Komunis China).

“Dalam kongres PKC yang gres saja berakhir, Xi Jinping bahkan secara resmi diangkat menjadi insan setengah dewa,” demikian menyerupai dikutip dari goresan pena Rizal Mallarangeng berjudul “Manusia Setengah Dewa: Presiden Xi” yang diunggah ke Qureta, Minggu (5/11/2017).

Dalam konstitusi partai kini kompilasi pidato Xi dimasukkan sebagai pemikiran fundamental. Hanya Mao Zedong yang pernah diperlakukan setinggi itu. Pemikiran Deng Xiaoping juga pernah dimuat dalam konstitusi partai, tetapi hanya disebut sebagai teori, lilun, yang derajatnya setingkat di bawah.

Kaum pengagum Deng, tentu saja bisa berdebat dan memberikan keberatan. Deng turut memimpin long march yang monumental pada 1935-1936, dua kali terbuang dan didepak oleh Mao, serta pada periode 1978-1995 memimpin transformasi China lewat aplikasi prosedur pasar dan meraih sukses besar yang kemudian diwarisi dan dikembangkan oleh generasi pemimpin gres sekarang.

Karena itu, bagi banyak intelektual terkemuka, antara lain Henry Kissinger, Francis Fukuyama, Ezra Vogel-Deng Xiaoping layak disebut sebagai salah satu negarawan terbesar era ke-20, sejajar dengan Franklin Roosevelt dan Winston Churchill.

Apa bekerjsama yang sudah dilakukan Presiden Xi selama lima tahun terakhir, selain keberaniannya memberantas korupsi, yang membuatnya layak menerima posisi begitu tinggi melampaui Deng Xiaoping?

“Tentu saja saya tidak ingin membawa goresan pena ini pada perdebatan intramural menyerupai itu. Setuju atau tidak, itulah faktanya ketika ini. Xi Jinping, insan paling kuasa, pemimpin tertinggi 1,4 miliar manusia, dengan butir-butir pemikiran yang harus menjadi acuan utama, dari komite sentral partai sampai ke ruang-ruang kelas di sekolah dasar,” papar Rizal Mallarangeng dalam tulisannya.

Dengan legitimasi baru, tokoh berusia 64 tahun itu simpel menjadi pemain tunggal dalam puncak piramida kekuasaan China. Secara prinsipil, berbeda dengan kepemimpinan Deng yang bersifat kolegial, tidak ada lagi yang bisa menghambat Presiden Xi untuk berkata, menyerupai Louis XIV di Perancis: l’etat, c’est moi, negara yakni aku, saya yakni negara.

Majalah Economist sendiri, setia pada tradisi jurnalisme dalam anutan liberal klasik, melontarkan skeptisisme terhadap perkembangan menyerupai itu, dengan kalimat cerdas: Xi Jinping might be good for the party, but not necessarily for the people of China.

“Saya cenderung baiklah pada skeptisisme menyerupai itu. Kekuasaan yang terlalu terpusat di tangan satu orang di negeri sebesar China akan membuat dilema teramat kompleks, apalagi kalau orang tersebut, menyerupai Presiden Xi, sempurna berada di persilangan tiga forum utama sekaligus, yaitu partai, birokrasi, dan militer,” kata Rizal dalam tulisannya.

Sebelum membahas problem politik itu, satu hal memang harus diakui. Dalam tahun-tahun terakhir ini China dan Xi Jinping menjadi daya tarik tersendiri, katakanlah sebagai narasi alternatif terhadap apa yang sedang terjadi di AS dengan Donald Trump, di Rusia dengan aksi teritorial Vladimir Putin, atau di Eropa dengan meningkatnya populisme dan xenophobia.

Dibandingkan dengan Trump misalnya, person to person, Xi Jinping akan tampil sebagai sosok yang kalem, berisi, dan berwibawa. Donald Trump, sehabis hampir setahun di Gedung Putih, justru menjadi makin parah.

“Penjelasan favorit saya dalam menggambarkan sosok Presiden Trump sejauh ini adalah: beliau tidak mempunyai cukup disiplin untuk menjadi seorang fasis, dan beliau juga tidak cukup lucu untuk menjadi seorang komedian,” ucap Rizal.

Selain itu, dalam proyeksi kekuatan internasional, AS kini tampak goyah dan menjadi hegemoni yang kehilangan dogma diri. Edward Luce, kolumnis Financial Times, di awal tahun ini menerbitkan sebuah buku dengan judul yang eksklusif menjelaskan apa yang kini sedang terjadi: The Retreat of Western Liberalism.

Sementara itu, China justru melaksanakan hal sebaliknya dengan membuatkan kebijakan luar negeri yang lebih asertif. Malah, di Davos pada Januari lalu, Presiden Xi menegaskan bahwa China akan memimpin globalisasi perdagangan lewat prinsip-prinsip yang sudah disepakati di WTO.

Hal terakhir ini bekerjsama merupakan salah satu ironi terbesar di awal era ke-21. Xi Jinping formalnya yakni pemimpin negara komunis, tetapi dengan jeli beliau melihat sebuah ruang kosong yang sedang ditinggalkan “pemiliknya,” dan alasannya yakni itu beliau muncul menjadi the new champion of the liberal international order, setidaknya dalam retorika. Hal menyerupai ini tak terbayangkan terjadi dua atau tiga tahun lalu.

Di luar perkara persona individual dan politik global semacam itu, faktor terpenting yang berada di balik daya tarik China yakni sukses besar yang diraihnya dalam pembangunan ekonomi.

Dalam soal ini banyak hal bisa dijelaskan. Namun pada pada dasarnya bisa dikatakan bahwa keberhasilan China belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, tumbuh cepat selama empat dekade dengan skala jauh lebih masif dibanding pertumbuhan yang dialami naga-naga Asia sebelumnya, menyerupai Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan.

Saat Deng Xiaoping mulai melaksanakan transformasi sehabis masa panjang kekuasaan Mao yang kelam, China yakni negara terbelakang, dengan GDP per kapita USD 200-300, hampir sama dengan negara miskin Afrika menyerupai Somalia. Sekarang, angka itu sudah mendekati USD 8.000, dan 600 juta orang sudah berhasil terangkat dari jurang kemiskinan.

Semula, reformasi ekonomi dimulai di sektor pertanian yang dikombinasikan dengan penciptaan zona perdagangan bebas di beberapa kota pantai timur dan selatan. Langkah ini kemudian disusul dengan pembangunan infrastruktur besar-besaran, plus ekspansi basis manufaktur berorientasi ekspor. Setelah itu, khususnya dalam sepuluh tahun terakhir, China mulai merambah basis produksi bernilai tinggi, dan kini sudah berada di garis terdepan sektor-sektor gres yang inovatif, menyerupai e-commerce, e-payment (Ali Baba, WeChat), artificial intelligence, dan robotics.

Semua itu membalikkan posisi China, dari negara tertinggal menjadi salah satu dinamo ekonomi dunia. Bahkan kalau ukurannya menggunakan purchasing power parity, skala ekonomi China tahun depan diramalkan akan menjadi nomor satu di dunia, menyalip posisi Amerika Serikat.

“Menyilaukan? Dahsyat? That’s the point: sementara ekonomi AS bergerak lambat, dan Eropa gres mulai melangkah keluar dari krisis yang tajam, China seolah meloncat dari satu puncak sukses ke puncak lainnya, dan alasannya yakni itulah Presiden Xi dipandang penuh kagum oleh banyak kalangan,” pungkas Rizal.

Kembali pada kekuasaan Xi Jinping yang begitu dominan, apa yang kini bisa kita katakan? Apakah dengan konsentrasi kekuasaan yang begitu besar di tangannya sendiri, pelan-pelan beliau akan membangun sistem absolutisme personal, mengulang kembali tradisi bad emperor yang di China mempunyai sejarah begitu panjang? Mampukah beliau melanjutkan tipologi pemerintahan yang kurang lebih ketika ini sanggup disebut good and successful authoritarianism?

“Dalam hal ini kita bisa berkata bahwa diktum Actonian perihal kekuasaan berlaku universal, termasuk di China. Kalau belum sekarang, dampaknya yang ekstrem mungkin akan terjadi nanti,” ujar Rizal Mallarangeng dalam tulisannya.

Selain itu, harus pula diingat bahwa semua negara Asia yang mengalami sukses pembangunan ekonomi kini telah menjadi negara demokrasi yang relatif stabil: Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Indonesia, dan dalam hal tertentu juga Malaysia. Sejauh ini, satu-satunya negara yang menjadi pengecualian dari progresi sejarah menyerupai ini yakni Singapura.

Apakah China akan terus-menerus menjadi Singapura raksasa?

“Saya agak ragu,” kata Rizal.

 Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia Berita Terhangat Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia

Dalam tulisannya, Rizal menjelaskan bahwa argumen perihal nilai-nilai Asia, adab Konfusius dan Sinitic Civilization, tentu akan absurd kalau kini dipakai dalam menggambarkan kemungkinan jangka panjang dari perkembangan politik Asia, termasuk China.

Teori modernisasi dan teori demokratisasi universal telah terbukti secara empiris, walaupun manifestasinya tidak seragam, tidak serempak, dan dinamikanya bergantung pada konteks masing-masing negara.

Sejarah memang tidak berjalan lurus, tapi bukankah bekerjsama kini ketika yang sempurna bagi China untuk mempersiapkan the inevitable? Reformasi politik justru paling ideal dilakukan dalam situasi ekonomi yang tumbuh dan menguat.

Kalau menunggu krisis ekonomi dulu, ongkos sosialnya akan terlalu mahal, dan di negeri dengan lebih semiliar penduduk–bukan Singapura dengan 5 juta penduduk–situasi jelek yang mungkin tercipta akan sulit terbayangkan sekarang.

Apakah bagi Xi Jinping pertumbuhan China akan terus menggapai langit? Dalam ekonomi, hanya satu hal yang pasti: siklus bisnis yakni bab dari aturan alam, menyerupai gravitasi. Bahkan cukup beralasan untuk berkata bahwa semakin usang keniscayaan itu ditunda semakin destruktif pula dampaknya kalau pada balasannya ia terjadi.

Sun Tzu, filsuf dan pemikir taktik dalam sejarah China klasik, pernah berkata: kemenangan terbesar justru harus diraih sebelum peperangan berlangsung. Barangkali kearifan menyerupai inilah yang kini harus didengarkan Presiden Xi.

Dalam hal ini tentu kita tidak berbicara perihal full-blown democratization atau reformasi serempak. Kesalahan Gorbachev sekian dekade kemudian dalam mengubah Uni Soviet memang perlu dihindari.

Namun, pelonggaran parsial kontrol ketat politik, pemisahan yang terang antara partai dan birokrasi, penciptaan kepastian aturan yang lebih menyeluruh, pertolongan otonomi yang leluasa kepada pemimpin di daerah: semua ini, dan banyak lagi, tetap sanggup dilakukan secara sedikit demi sedikit untuk membentuk sistem politik yang lebih responsif terhadap perubahan serta dinamika gres masyarakat China.

Makara singkatnya, kalau Xi Jinping dan lapisan elite di Beijing melakukannya sekarang, they are doing the reform from the position of relative strength, dan alasannya yakni itu skala dan tempo perubahan mungkin sanggup mereka sesuaikan dengan baik.

Salah satu jebakan yang ada kini yakni self-delusion, sukses ekonomi yang dahsyat cenderung menyilaukan mata. Ia bisa menipu bukan hanya para pengagum China di Davos, New York, atau London, tetapi mungkin terutama kaum pemimpin di Beijing sendiri, termasuk Presiden Xi.

Bahkan di kalangan intelektual, kalau kita mengikuti perkembangan literatur studi daerah dan pembangunan, ketika ini sudah mulai muncul konsep-konsep baru, menyerupai The China Model, yang berpandangan bahwa dominasi politik PKC menyerupai yang ada selama ini yakni sesuatu yang permanen dan ideal.

Hal terakhir ini mengingatkan kita pada kaum fellow-travellers, menyerupai Jean Paul Sartre di Prancis, yang memuji komunisme di Uni Soviet pada1950-an.

Semoga kaum pemimpin di Beijing terhindar dari ilusi semacam itu. Pertaruhannya terlalu besar kalau mereka terbuai sendiri dengan sukses yang telah mereka raih sejauh ini.

“Buat saya, kalau Xi Jinping memang bisa membaca kehendak zaman dan, dengan kekuasaan besar yang gres saja diraihnya, mulai mengambil langkah dalam memimpin transformasi politik China – dengan semua ini barulah kita sanggup berkata bahwa ia memang layak disejajarkan dengan Deng Xiaoping dalam panteon kepahlawanan The Middle Kingdom,” kata Rizal.

“Dan barangkali juga, sebagai sebuah bonus, semua itu akan menjadi hadiah yang bagus bagi dunia di awal era ke-21 yang agak muram ini,” tutupnya.

 Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia Berita Terhangat Presiden Xi Jinping dinobatkan menjadi Pria terkuat di dunia