Berita Terhangat Ngabalin Sebut Kritik Prabowo Subianto Soal Kemiskinan Menyesatkan

Jiromedia.comTenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin menilai, kritik yang dilontarkan kepada pemerintah dan cenderung bernada pesimis merupakan kritik yang menyesatkan. Bahkan, Ngabalin menyebut kritik terkait meningkatnya angka kemiskinan yang dilontarkan oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyesatkan.

“Itu sebabnya aku ingin menyampaikan kepada Anda semua bahwa jikalau ada pernyataan dari siapa pun, termasuk dari Prabowo Subianto, jikalau menyebutkan kemiskinan Indonesia naik 50 persen, itu ialah pernyataan yang sesat dan menyesatkan,” ujar Ngabalin dalam sebuah diskusi di daerah Matraman, Jakarta Pusat, Sabtu (28/7/2018).
Menurut Ngabalin, ketika ini generasi muda Indonesia mempunyai optimisme untuk memajukan bangsanya.
Ia meyakini kritik yang bersifat pesimisme dan fitnah tidak akan menciptakan Indonesia bubar. Ngabalin pun memastikan kritik yang dilontarkan oleh Prabowo terkait meningkatnya kemiskinan itu tidak benar.
Menurut dia, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) angka kemiskinan justru menurun. Kendati demikian ia tidak memaparkan data penurunan tersebut secara detail.
“Sepanjang Anda berbohong, sepanjang Anda membuatkan gosip hoaks, gosip yang sesat dan menyesatkan, aku akan melaksanakan perlawanan di mana pun Anda berada,” kata Ngabalin.
Dalam beberapa kesempatan, Prabowo memang kerap melontarkan kritik terhadap pemerintah di bidang ekonomi. Misalnya seusai bertemu Ketua MPR Zulkifli Hasan di rumah dinasnya Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Senin (25/6/2018) lalu, Prabowo sempat memaparkan soal kesenjangan sosial.
Bahkan, ia menguatkan kritik terkait kesenjangan sosial tersebut dengan data-data dari institusi pemerintah, forum internasional dan forum swadaya masyarakat, menyerupai Oxfam, Infid dan Walhi.
Mantan Komandan Jenderal Kopassus Tentara Nasional Indonesia AD itu mengungkapkan, menurut hasil riset forum internasional, koefisien gini ratio Indonesia berada di angka 45. Artinya, 1 persen masyarakat menguasai 45 persen kekayaan nasional.
Kemudian, ia menyoroti banyaknya lahan yang dikuasai perusahaan-perusahaan swasta. Dengan mengutip data dari Badan Pertanahan Nasional, ia menyebut sebesar 1 persen masyarakat telah menguasai 80 persen lahan di Indonesia.
Prabowo juga mengkritik tingginya jumlah masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut dia, masih ada sekitar 69 juta penduduk Indonesia yang terancam miskin.