Berita Terhangat Nasa: Es Di Kutub Mencair, Empat Kota Di Indonesia Terancam

News InternasionalLOS ANGELES – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA telah meluncurkan perangkat internet yang bisa memperkirakan kota-kota dunia yang terkena dampak mencairnya lapisan es.

Dengan peralatan itu bisa terlihat bagaimana asumsi air yang mencair dari es itu terdistribusi secara global.

“Peralatan itu memberikan—untuk setiap kota—gambaran wacana gunung es, lapisan es, ataupun puncak es yang mana yang amat penting,” tutur para peneliti.

Jadi, jangan menganggap alasannya yaitu Indonesia jauh dari tempat gunung es, maka tidak akan terkena dampak dari mencairnya lapisan es di Kutub Utara atau Kutub Selatan.

Pasalnya, berdasarkan para ilmuwan, perputaran Bumi dan pengaruh gravitasi akan menciptakan air dari gunung dan lapisan es menyebar ke seluruh dunia.

Jakarta, misalnya, berdasarkan asumsi para ilmuwan, akan terkena dampak peningkatan permukaan bahari setinggi 1.713 milimeter.

Selain Jakarta, empat kota dan satu tempat lain yang masuk dalam peralatan internet yang dikembangkan Laboratorium Propulsi Jet NASA di California itu adalah:

*Banda Aceh: peningkatan permukaan air bahari 1,713 mm
*Jawa Timur: 1.766 mm
*Makassar: 1.764 mm
*Manado: 1.780 mm
*Jayapura : 1.747 mm

Laporan wacana predikisi peningkatan permukaan bahari tersebut sudah diterbitkan di Science Advances.

“Sejalan dengan kota-kota dan negara-negara yang berupaya membangun rencana untuk mengurangi banjir, mereka harus berpikir 100 tahun ke depan bila ingin mengkaji kesannya dengan cara yang sama dilakukan perusahaan asuransi,” kata Dr Erik Ivins.

“Peralatan gres ini menawarkan cara bagi mereka untuk melihat lapisan es yang seharusnya paling mereka khawatirkan.”

Dengan peralatan itu, terlihat juga peningkatan permukaan air bahari yang signifikan akhir dari perubahan di lapisan es di sebelah bab barat bahari Greenland.

Seorang ilmuwan lain, Dr Eric Larour, mengatakan, ada tiga proses utama yang menghipnotis “jejak permukaan laut” atau istilah untuk tumpuan perubahan permukaan bahari di seluruh dunia.

Proses yang pertama yaitu grafiti.

“Hal itu (lapisan-lapisan es) ini yaitu massa besar yang mengerahkan daya tarik ke laut,” kata Dr Larour.

“Ketika es menyusut, daya tarik tersebut berkurang dan bahari akan menjauh dari massa itu.”

“Sejalan dengan daya ‘tarik-dorong’ itu, daratan di bawah lapisan es yang mencair akan mengembang secara vertikal, alasannya yaitu sebelumnya ditekan lapisan es yang berat,” tambah dia.

Faktor terakhir yang menghipnotis yaitu planet yang berputar.

“Anda bisa memikirkan Bumi yang berputar,” kata Dr Larour. “Pada ketika berputar, ia bergoyang dan pada ketika massa di permukaan berubah, maka goyangannya juga berubah.”

“Hal itu, pada gilirannya meredistribusi air ke seluruh Bumi.”

Dengan memperkirakan semua faktor tersebut ke dalam kalkulasi, para peneliti bisa membangun sebuah peralatan prakiraan untuk kota-kota dunia tersebut.

“Kami bisa menghitung kepekaan yang tepat, untuk kota tertentu, wacana permukaan bahari untuk setiap massa es di dunia,” ujar Dr Larour kepada BBC.

 Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau  Berita Terhangat NASA: Es di Kutub Mencair, Empat Kota di Indonesia Terancam