Berita Terhangat Mengejutkan! Gara-Gara Dari Kecil Dikasih Main Gadget, Otak Anak Ini Mengalami Kecacatan Mengerikan. Kesudahannya Ibunya Nyesel

News Nasional, Gak bisa dipungkiri, di zaman modern kayak kini ini, gadget udah gak bisa lepas dari hidup kita. Bahkan hingga mainan anak- anak pun semuanya udah ganti pake gadget. Banyak orangtua zaman kini yang mungkin gak pengen rempong, sehingga memperlihatkan gadget kepada anaknya, alasannya si anak niscaya pribadi diem ketika udah asik main.

efek yang mengerikan, terutama pada anak- anak! Gak percaya? Ibu ini udah ngalamin sendiri kok… Kalo kau udah baca curhatannya, dijamin kau gak bakal berani lagi kasih anak main gadget!

Gini ceritanya:

1. Seorang ibu asal Manado memperlihatkan gadget kepada anaknya (Shafraan) ketika berusia 10 bulan.
“Awal perkenalan dengan gadget pas Shafraan umur 10 bulan. Awalnya terbiasa liat kakak-kakaknya main game di tab. Dari sekedar jadi penonton, usang kelamaan ia jadi tertarik untuk mencoba.”

2. Seiring berjalannya waktu, Shafraan jadi kecanduan main gadget. Si ibu pun jadinya memanfaatkan kecanduan ini untuk menenangkan anaknya.

“Seiring bertambahnya usia, gadget jadi barang yang tak bisa terpisahkan dalam kesehariannya. Bermain banyak sekali jenis game bisa hingga berjam-jam.”

“Awalnya saya membiarkan. Saya memfasilitasi alasannya bagi saya gadget ialah senjata ampuh saya untuk menenangkan dia. Saat ia murka dan menangis saya niscaya akan membujuknya dengan bermain game. Dan ia akan pribadi tenang.”

3. Tapi lama-kelamaan ada yang ajaib dengan tingkah laris si anak

“Di umurnya yang ke-2 tahun, anak saya terlihat kaku berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pernah saya mendapati ia hanya memegang mobil-mobilannya sambil membisu saja. Tebak saya, alasannya selama ini ia terbiasa menggerakkan jarinya hanya untuk permainan dalam gadgetnya.”

“Keanehan lainnya ialah kurangnya kosakata yang bisa ia ucapkan. Padahal anak seumuran ia seharusnya sudah bisa berbicara dengan variatif.”

Sejak ketika itu si ibu mulai melarang anaknya main gadget. Tapi gimana reaksi sang anak? Anaknya pribadi ngamuk, nangis, selalu melempar barang, jadi susah makan, susah tidur, dan rewel. Akhirnya alasannya kasihan, si ibu mengembalikan gadgetnya lagi ke anaknya.

4. Merasa makin gak beres, jadinya Shafraan dikonsultasikan ke dokter.

“Puncaknya sekitar 2 bulan yang kemudian saya ke Rumah Sakit buat imunisasi. Ketemu sama dokter di penggalan tumbuh kembang anak. Semua permasalahan kami konsultasikan termasuk bertanya wacana kondisi Shafraan.”

“Menurut dokter Shafraan kini dalam kondisi Speech delay atau keterlambatan bicara. Tidak tanggung-tanggung perkembangan bicara Shafraan terlambat 1 tahun dari umurnya yang udah 3 tahun 4 bulan waktu itu.”

Dokter pun menganjurkan Shafraan untuk ikut Terapi Okupasi atau Sensori Integrasi semoga bisa menstimulasi kemampuan bahasa, kemudian dilanjutkan ke Terapi Wicara.

5. Menyadari kondisi ini ialah kesalahannya, sang ibu pun sangat terguncang dan menyesal

“Pernyataan dari dokter itu bagaikan guntur di siang bolong. Baru saya sadar sayalah penyebab Shafraan jadi begini.”

“Gara-gara saya tidak mau direpotkan dengan bunyi tangisannya, saya tidak mau melihat rumah berserakan alasannya mainannya. Saya tidak mau repot. Saya tidak mau capek. Saya EGOIS. Itulah kesalahan terbesar saya sebagai seorang ibu. Dan gres kini mata saya terbuka lebar wacana kondisi anak saya.”

6. Sejak ketika itu Shafraan tidak diizinkan main gadget lagi.

“Sejak hari itu penggunaan gadget ditiadakan. Awalnya ia nangis sambil minta tab tapi dengan tegas saya bilang tab rusak. Besoknya ia minta lagi. Tetap saya bilang rusak. Selama kurang lebih seminggu ia masih sering meminta.Tapi alhamdulillah jadinya ia mulai lupa dengan rutinitasnya yang dulu dan mulai menciptakan acara baru.”

“Hasilnya? Sekarang rumah tidak pernah bisa rapi. Mainan berantakan. Tapi ada kemajuan pesat pada diri Shafraan. Pembendaharaan katanya sudah lebih banyak. Bahkan kini ia sudah bisa bicara membentuk kalimat. Walaupun masih belum terlalu terang tapi saya sudah sangat bersyukur .”

“Saya hanya mengembangkan pengalaman saja. Jangan hingga apa yang terjadi pada Shafraan terjadi pada belum dewasa lain.”

Sungguh miris, padahal teknologi diciptakan oleh manusia, tapi jadinya insan sendirilah yang dirugikan teknologi! Semoga curhatan ibu ini bisa membuka mata para orangtua dan bisa dengan bijaksana membagi waktu untuk menemani sang anak bermain, bukannya malah mau simpel dengan kasih gadget. Yuk, segera di share!

 gadget udah gak bisa lepas dari hidup kita Berita Terhangat Mengejutkan! Gara-gara Dari Kecil Dikasih Main Gadget, Otak Anak Ini Mengalami Keanehan Mengerikan. Akhirnya Ibunya Nyesel