Berita Terhangat Keel Laying Kapal Bcm Tni Al Dilakukan Di Pt Batamec Shipyard

KRI Tarakan 905, salah satu kapal BCM (Bantu Cair Minyak) yang dimiliki Tentara Nasional Indonesia AL

TNI Angkatan Laut kembali menciptakan kapal perang (KRI) modern . Kapal ini berfungsi sebagai kapal bantu cair minyak (BCM) di Batam . Mereka mempercayakan proyek pembuatan kapal tanker khusus ini di PT Batamec Shipyard yang sukses melaksanakan peletakan lunas pertamanya (keel laying) di Tanjung Uncang, Jumat (8/9) kemarin.

Perusahaan ini sendiri, merupakan salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di Batam yang bergerak di bidang pembangunan kapal baru, perbaikan dan konversi kapal yang telah mendapatkan penghargaan ISO 9001:2008 wacana sistem administrasi berkualitas, serta sistem keamanan dan kesehatan dari BS OHSAS 18001:2007, serta sistem administrasi lingkungan ISO 14001:2004.

Asisten Logistik Kasal Laksda Tentara Nasional Indonesia Mulyadi menyebutkan, secara umum, dipilihnya PT Batamec sebagai perusahaan pembuat kapal ini sebab PT Batamec sudah mempunyai banyak sekali akomodasi lengkap untuk pembuatan dan perbaikan kapal. Yakni berdiri di atas lahan sekitar 64 hektare dengan akomodasi ibarat graving dock yang sudah dilengkapi 2 grantry crane berkapasitas 160 ton dan tinggi 32 meter.

Selain itu, sudah dilengkapi 3 buah slipway dengan masing-masing gantry crane berkapasitas 100 ton, ada juga Syncrolift berukuran 100 meter x20 meter x8 meter dengan kapasitas 3000 ton dan sudah dilengkapi gantry crane berkapasitas 140 ton, serta tiga buah dermaga, lima workshop pabrikasi, 3 mesin CNC Plasma yang bisa memproduksi 30 ton per hari, serta dilengkapi banyak sekali mesin ibarat mesin bending, rolling, mesin bubut yang menunjang produktivitas perusahaan tersebut.

Selain itu, ini juga merupakan dukungan dan dedikasi Tentara Nasional Indonesia AL dalam mendukung industri lokal dan memakai produk Alutsista buatan negeri sendiri, serta menyebabkan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” ujar Mulyadi usai peletakan lunas pertama (Keel Laying) kapal BCM milik Tentara Nasional Indonesia AL di Tanjunguncang, Jumat (8/9) kemarin.

Menurutnya, kapal tanker ini merupakan kapal ketiga milik Tentara Nasional Indonesia AL yang dibangun di Indonesia dan sudah memakai agen pembagian terstruktur mengenai Bureau Veritas (BV). Tanker gres ini hadir dengan ukuran panjang 123,50 meter dan lebar 16,50 meter dengan kapasitas muat minyak 5500 meter kubik. Ke depan, kapal ini berfungsi sama ibarat KRI Tarakan, ialah sebagai Auxiliary Support Vessel, yang mengisi materi bakar kapal perang Angkatan Laut Indonesia ketika beroperasi di laut.

Rencananya kapal ini akan dioperasikan di gugus kiprah wilayah armada cuilan barat (Armabar,red), mengingat ketika ini, kita kekurangan alat untuk wilayah ini,” ujar Mulyadi.

Tanker ini juga akan dilengkapi sistem Replenishment at Sea (RAS) yang memungkinkan kapal untuk mentransfer materi bakar ke kapal-kapal lain ketika dalam kondisi beroperasi dan pelayaran jauh. Kemampuan ini sangat bermanfaat dalam seni administrasi kemiliteran, dimana waktu dan kecepatan merupakan hal yang sangat memilih dalam situasi genting.

Itu artinya, kapal tak perlu berhenti atau kembali ke pangkalan untuk sekedar melaksanakan pengisian materi bakar. Misalkan, kita tak butuh kembali ke pangkalan di Natuna ketika beropasi di perairan terluar. Kapal ini kita butuhkan ketika beroperasi dalam menjaga batas-batas maritim Indonesia di daerah perbatasan,” jelasnya.

Yang jelas, tambah Mulyadi, kapal ini akan dioperasikan satuan kiprah kapal bantu (Satban) dalam pengawalan dan penjagaan di maritim Natuna Utara. “Kapal ini akan mengawal kapal-kapal perang kita yang beroperasi di perairan perbatasan ibarat di Laut China Selatan yang butuh pengawalan khusus,” jelasnya.

Direktur PT Batamec Shipyard, Mulyono Adi menyebutkan ini menjadi kerjasama pertama mereka dalam mendukung Tentara Nasional Indonesia untuk pengadaan Alutsista dengan menciptakan kapal baru. “Ini yang pertama, tapi jikalau maintenance atau perbaikan kapal sudah sering,” ujarnya.

Mulyono menyebutkan, sebab kapal digunakan untuk kepentingan operasi, meski pun statusnya sebagai kapal tanker, namun bisa juga mengangkut logistik berair maupun kering untuk kebutuhan militer “Kapal ini telah mengalami penyempurnaan sehingga lebih aerodinamis dan modern,” jelasnya.

Sementara itu, rangkaian keel laying kapal ini sendiri memakai metode koin ceremonu. Metode ini merupakan sebuah tradisi yang biasa digunakan pada tahap awal pembangunan kapal. Caranya denga meletakkan koin pada cuilan bawah lunas kapal yang dipercaya sebagai simbol keberuntungan. Peletakan itu sendiri diserahkan oleh Mulyono Adi untuk diletakkan secara simbolis oleh Laksda Mulyadi sebagai kawan peserta dari Tentara Nasional Indonesia AL.

Proses keel laying ini dilaksanakan kini sehabis enam bulan proyek berjalan sebab PT Batamec, sesuai regulasi Marpol/Solas, mengikuti hukum pembangunan kapal mencapai satu persen dari total berat LWT. “Saat ini sudah menuntaskan delapan blok setara berat 360 ton. Itu artinya pembangunan kapal sudah mencapai 1 persen, dan sudah bisa keel laying,” ujar Mulyono Adi.

Pembangunan kapal BCM ini diawasi oleh satgas dari Tentara Nasional Indonesia AL secara eksklusif yang dipimpin oleh kolonel maritim (T) Hindarto sebagai Dansatgas.

Meskipun venue program sempat banjir akhir hujan deras, namun program tetap berlangsung sukses. Rencananya, pembuatan kapal ini akan selesai pada simpulan 2018 mendatang.

Acara ini sendiri dihadiri juga Vice President PT Batamec Shipyard Heronimus Setiawan, Project Manager kapal BCM Harsya Damar Hadityo, beserta para karyawan Batamec, dan juga kawan perbakan dan rekanan. Sedangkan dari pihak Tentara Nasional Indonesia dihadiri Danlantamal 4 Tanjungpinang, Laksmana Pertama (P) Ribut Eko Suyatno, Danlanal Batam, Kolonel Laut (P) Ivong Wicaksono Wibowo, Kasubdis Adalut Kolonel Laut (T) Andi Djaswandi, serta para pejabat lingkungan dari Mabes Tentara Nasional Indonesia AL. (cha)


  Batampos